- by Karina
- 07 August 2026
Loading
Selama ini, narasi sejarah arus utama sering kali menyebutkan bahwa Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh (Samudera Pasai) pada abad ke-13, atau melalui dakwah Wali Songo di Pulau Jawa. Namun, sejarah lokal Sumatera Utara menyimpan fakta yang jauh lebih tua dan mengejutkan. Jauh sebelum kerajaan-kerajaan Islam besar berdiri, denyut nadi peradaban Islam sudah lebih dulu berdetak di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Situs Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Diakui sebagai "Titik Nol Peradaban Islam Nusantara", Barus adalah bukti otentik bahwa ajaran Islam telah menyentuh kepulauan Nusantara sejak abad ke-7 Masehi, atau tepatnya pada abad pertama Hijriah.
Mengapa para pedagang dan saudagar dari Timur Tengah rela mengarungi samudra ganas untuk berlabuh di Barus? Jawabannya terletak pada komoditas endemik yang harganya kala itu ditakar setara dengan emas: Kapur Barus (camphor).
Sejak awal abad masehi, pelabuhan Barus (yang dalam literatur kuno Arab disebut Fansur) telah menjelma menjadi bandar niaga internasional yang sangat sibuk. Para pelaut dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok datang berbondong-bondong untuk mencari kapur barus yang digunakan sebagai bahan pengawet, obat-obatan, dan wewangian istana. Melalui jalur perdagangan rempah inilah, para saudagar Muslim dari Timur Tengah tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga membawa syiar agama Islam, berinteraksi, dan akhirnya menetap bersama penduduk lokal pribumi.
Bukti fisik paling kuat yang mengonfirmasi kehadiran awal Islam di Barus bukanlah istana atau masjid megah, melainkan kompleks pemakaman kuno yang terletak di dataran tinggi. Terdapat dua situs makam utama yang menjadi jantung peziarahan sejarah di Tapanuli Tengah:
Makam Papan Tinggi: Situs ini berada di atas bukit yang menjulang, mengharuskan peziarah dan peneliti untuk mendaki ratusan anak tangga agar bisa mencapai puncaknya. Di lokasi ini bersemayam jasad Syekh Mahmud, seorang penyebar agama Islam yang makamnya ditandai dengan batu nisan menjulang setinggi 1,5 meter. Inskripsi Arab kuno yang terpahat pada nisannya menjadi objek penelitian penting bagi para epigraf dan arkeolog dunia.
Makam Mahligai: Didirikan di atas perbukitan seluas tiga hektare, kompleks makam ini menyimpan ratusan nisan kuno dengan pengaruh corak arsitektur Persia dan Timur Tengah. Salah satu nisan paling krusial di sini adalah makam Syekh Rukunuddin. Berdasarkan pahatan yang tertera, beliau diyakini wafat pada malam 13 Safar Tahun 48 Hijriah (sekitar 672 Masehi). Tanggal ini menjadi landasan kuat bahwa komunitas Muslim sudah eksis di Barus pada abad ke-7.
Pengakuan terhadap Barus sebagai pintu gerbang pertama Islam di Nusantara telah disahkan secara kenegaraan dengan diresmikannya Monumen Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara pada tahun 2017. Namun, tugas pelestarian tidak berhenti pada pendirian monumen batu.
Bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum pencinta sejarah, Barus adalah sebuah laboratorium peradaban yang terbuka lebar. Keberadaan inskripsi Arab kuno di Makam Papan Tinggi dan Mahligai menantang generasi muda kita untuk terus menggali, meneliti, dan mempublikasikan sejarah lokal agar diakui secara global. Melalui platform Sejarahlokalsumut.org, kita merawat ingatan bahwa pesisir Tapanuli Tengah pernah menjadi pusat pertemuan budaya dunia, dan dari sanalah cahaya peradaban Islam di Nusantara pertama kali bersinar.
0 Comments:
Leave a Reply