- by Karina
- 07 August 2026
Loading
DELI SERDANG – Jika menyebut nama "Putri Hijau", memori sebagian besar masyarakat Sumatera Utara pasti akan langsung tertuju pada kisah legenda tentang seorang putri berparas rupawan yang cahayanya memancar kehijauan. Namun, siapa sangka bahwa kisah yang sering dianggap sebagai dongeng pengantar tidur ini sejatinya berpijak pada fakta sejarah yang sangat megah?
Kebenaran sejarah itu masih berdiri dalam diam di Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Di sanalah terbentang Situs Benteng Putri Hijau, sebuah mahakarya arsitektur pertahanan masa lampau yang menjadi saksi bisu kebesaran—sekaligus kejatuhan—salah satu kerajaan paling disegani di pesisir timur Sumatera: Kerajaan Aru (Haru).
Situs Benteng Putri Hijau bukanlah bangunan dari susunan batu bata atau batu andesit seperti candi-candi di Pulau Jawa, melainkan sebuah benteng tanah (earthwork fort) yang berukuran masif. Pada masa kejayaannya di rentang abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, benteng ini merupakan pusat pertahanan ibu kota Kerajaan Aru.
Nenek moyang kita secara jenius memanfaatkan topografi alam untuk membangun benteng ini. Mereka mendirikan gundukan tanah tinggi yang diapit oleh aliran sungai-sungai curam, seperti Sungai Deli dan Sungai Petumbukan, yang berfungsi sebagai parit pertahanan alami. Strategi militer tradisional ini dirancang untuk menghalau serangan dari luar, menjadikan kawasan ini sebagai benteng pertahanan yang sangat sulit ditembus oleh musuh.
Bagi para sejarawan, situs ini adalah "harta karun" arkeologi yang membuktikan bahwa perang besar yang dikisahkan dalam legenda benar-benar terjadi. Dalam cerita rakyat, Kerajaan Aru hancur akibat serangan Kesultanan Aceh karena lamaran Sultan Aceh yang ditolak oleh Putri Hijau.
Secara historis, Kerajaan Aru memang pernah terlibat peperangan dahsyat melawan Kesultanan Aceh pada pertengahan abad ke-16. Temuan-temuan ekskavasi dari berbagai tim arkeologi nasional maupun internasional di kawasan Benteng Putri Hijau berhasil mengangkat bukti-bukti tak terbantahkan. Dari kedalaman tanah, ditemukan ribuan kepingan keramik dari Tiongkok (Dinasti Ming), koin-koin kuno dari Sri Lanka hingga Eropa, selongsong peluru meriam, hingga sisa-sisa persenjataan. Temuan peluru meriam (peluru petunang) ini dengan sangat jelas mengonfirmasi adanya gempuran militer berskala besar yang pernah membumihanguskan benteng ini.
Meskipun menyimpan nilai historis yang luar biasa, nasib Benteng Putri Hijau di era modern sempat berada di ujung tanduk. Alih-alih dirawat, sebagian besar kawasan benteng ini sempat terancam lenyap akibat masifnya pembangunan perumahan (real estat) dan penggalian tanah ilegal. Ekskavator modern nyaris menghancurkan sisa-sisa tembok tanah pelindung peninggalan leluhur kita.
Beruntung, berkat desakan para pecinta sejarah, akademisi, dan kesadaran pemerintah, Situs Benteng Putri Hijau kini telah berstatus sebagai kawasan Cagar Budaya. Upaya perlindungan secara hukum mulai ditegakkan, dan sisa-sisa benteng tanah yang masih berdiri kini terus dikonservasi.
Keberadaan Situs Benteng Putri Hijau mengajarkan kita satu hal penting: sejarah lokal Sumatera Utara jauh lebih besar dan hebat dari sekadar dongeng lisan. Ia adalah bukti bahwa leluhur Nusantara memiliki peradaban maju, jaringan perdagangan global yang luas, serta teknologi pertahanan yang mumpuni.
Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang. Mengunjungi Benteng Putri Hijau bukan lagi sekadar ziarah ke tempat bernuansa mistis, melainkan sebuah napak tilas intelektual untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Jangan biarkan sisa-sisa kebesaran Kerajaan Aru ini kembali tenggelam, baik oleh roda peradaban modern maupun oleh ketidakpedulian kita sendiri.
0 Comments:
Leave a Reply