18 August 2026

Di Sumut Ada Candi? Banyak Anak Sekolah Tidak Tahu! Yuk Lebih Mengenal Candi Bahal

Buku Paket tidak memuat sejarah lokal


Ketika berbicara tentang candi di Indonesia, ingatan publik sering kali langsung tertuju pada kemegahan Borobudur atau Prambanan di Pulau Jawa. Padahal, jauh di pedalaman Sumatera Utara, tepatnya di hamparan sabana Kabupaten Padang Lawas Utara, tersembunyi sebuah mahakarya arsitektur kuno yang usianya diperkirakan mencapai milenium pertama. Mahakarya tersebut adalah Kompleks Candi Bahal, sebuah peninggalan eksotis yang menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Pannai dan penyebaran ajaran Buddha beraliran Tantrayana di Nusantara.

Terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, situs bersejarah ini sering juga disebut oleh masyarakat setempat sebagai Candi Portibi. Nama "Portibi" sendiri berasal dari bahasa Batak yang meminjam kosa kata Sanskerta Prthivi, yang berarti "bumi" atau "dunia". Penamaan ini seolah memberikan isyarat bahwa pada masanya, kawasan ini bukanlah desa sunyi, melainkan sebuah pusat peradaban, keagamaan, dan permukiman kosmopolitan yang sangat penting.

Membaca Jejak Kerajaan Pannai yang Misterius

Keberadaan Candi Bahal tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Pannai, sebuah kerajaan yang berkembang pada abad ke-11 hingga ke-14 Masehi. Pannai adalah kerajaan kuno yang keberadaannya cukup misterius namun sangat disegani. Kebesarannya bahkan terekam dalam Prasasti Tanjore (1030 M) yang dikeluarkan oleh Raja Rajendra Chola I dari India Selatan. Dalam prasasti tersebut, Pannai digambarkan sebagai kerajaan yang dilindungi oleh "kolam-kolam air" yang mengacu pada bentang alam sungai-sungai besar di Sumatera.

Tidak hanya diakui oleh penguasa India, nama Pannai juga tercatat dengan bangga dalam Kakawin Nagarakretagama (1365 M) karya Mpu Prapanca dari era Majapahit. Fakta-fakta literatur ini menegaskan bahwa kompleks Candi Bahal adalah pusat dari sebuah entitas politik dan keagamaan besar yang memiliki jaringan kuat dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara hingga daratan Asia Selatan.

Arsitektur Bata Merah yang Memukau

Salah satu ciri paling mencolok yang membedakan Candi Bahal dengan candi-candi di Jawa adalah material bangunannya. Jika candi di Jawa umumnya dibangun menggunakan batu andesit, Candi Bahal dibangun sepenuhnya menggunakan susunan bata merah yang direkatkan sedemikian rupa hingga mampu bertahan melintasi zaman.

Kompleks ini terdiri dari tiga bangunan utama yang letaknya saling terpisah, yakni Candi Bahal I, Bahal II, dan Bahal III. Candi Bahal I merupakan bangunan yang paling besar dan utuh. Bangunan ini memiliki keunikan arsitektur yang sangat khas Sumatera, di mana bagian atapnya tidak berbentuk stupa lonceng seperti Borobudur, melainkan berbentuk silinder tinggi yang mengingatkan kita pada gaya arsitektur candi di Sri Lanka atau stupa-stupa di Nepal. Pada sisi-sisi dindingnya, terdapat relief berupa tokoh-tokoh yaksha (makhluk setengah dewa) yang digambarkan sedang menari dengan lincah, memberikan nuansa dinamis pada tembok bata merah yang kokoh.

Pusat Ritual Mistis Vajrayana

Sisi paling menarik dari Kompleks Candi Bahal adalah kaitannya dengan sekte Buddha Vajrayana atau Tantrayana. Aliran ini dikenal dengan ritual-ritualnya yang bernuansa mistis, garang, dan penuh simbolisme esoterik. Bukti terkuat dari praktik aliran ini di Padang Lawas adalah ditemukannya arca Heruka di sekitar kompleks candi.

Dalam mitologi Tantrayana, Heruka adalah dewa pelindung yang wujudnya digambarkan sangat menakutkan, memiliki taring, dan menari di atas tumpukan mayat. Penggambaran garang ini bukanlah simbol kejahatan, melainkan filosofi mendalam tentang kekuatan untuk menghancurkan kebodohan, ego manusia, dan ilusi duniawi. Temuan arca ini mengukuhkan status Candi Bahal sebagai pusat ritual keagamaan beraliran Tantrayana terbesar di Pulau Sumatera.

Warisan Budaya yang Menanti untuk Terus Digali

Kini, berdiri di tengah hembusan angin sabana Padang Lawas sambil menatap susunan bata merah Candi Bahal memberikan pengalaman spiritual dan historis yang luar biasa. Candi ini bukan sekadar tumpukan benda mati, melainkan monumen kebanggaan Sumatera Utara yang membuktikan bahwa wilayah pedalaman Sumatera pernah menjadi episentrum pertukaran budaya dan agama tingkat dunia.

Bagi para penelusur jejak masa lalu, memasukkan Candi Bahal ke dalam daftar destinasi sejarah wajib adalah sebuah keharusan. Menyebarluaskan narasi tentang kemegahan Kerajaan Pannai melalui peninggalannya ini adalah langkah penting agar generasi mendatang tidak pernah lupa bahwa tanah Sumatera Utara didirikan di atas fondasi peradaban yang sangat kaya dan bernilai tinggi.

author

Karina Wanda, S.Pd., M.Pd.

Dosen PGSD Konsentrasi IPS di FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Negeri Yogyakarta

3 Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

you may also like

  • by Karina
  • 07 August 2026
Menyingkap Tabir Barus
  • by Karina
  • 07 August 2026
Menelusuri Benteng Putri Hijau
  • by Karina
  • 07 December 2023
MANUSIA STABAT 6000 TAHUN LALU