- by Karina
- 19 August 2026
Loading
Kompleks percandian di Padang Lawas tidak dibangun secara sembarangan; ia terbentang mengikuti aliran sungai sebagai poros peradaban. Di kompleks Biaro Tandihat, ditemukan sebuah prasasti penting yang berangka tahun 1101 Saka atau 1179 Masehi.
Dipahat di atas balok batu pasir, Prasasti Tandihat menjadi saksi bisu dari masa-masa akhir kejayaan tradisi keagamaan Buddha Tantrayana di wilayah tersebut. Pada abad ke-12, kawasan ini merupakan pusat spiritual yang sangat aktif. Para pendeta, pengikut aliran Tantrayana, serta para peziarah dari berbagai wilayah di Asia Tenggara datang ke kompleks biaro-biaro di sepanjang Sungai Barumun untuk melakukan meditasi, upacara pensucian, dan ritual keagamaan.
Meskipun kondisi fisik batu prasasti ini mengalami pelapukan akibat usia dan cuaca, keberadaannya melengkapi teka-teki bentang sejarah spiritual Sumatera Utara. Bersama candi-candi bata merah seperti Biaro Bahal I, II, dan III, Prasasti Tandihat menegaskan bahwa pedalaman Sumatera Utara pernah menjadi pusat pembelajaran agama dan filsafat yang diakui dalam jaringan maritimBuddhis regional Asia.
0 Comments:
Leave a Reply