- by Karina
- 19 August 2026
Loading
Kawasan Portibi di Padang Lawas Utara menyimpan teka-teki sejarah yang kaya, salah satunya melalui penemuan Prasasti Sitopayan I dan II. Bagi para ahli epigrafi, filologi, dan sejarah kebudayaan, prasasti ini adalah salah satu artefak paling menarik di Nusantara karena merekam persinggungan dua kebudayaan besar secara harmonis.
Ditinjau dari aspek linguistik, teks pada Prasasti Sitopayan menggunakan campuran bahasa Melayu Kuno dan Batak Kuno. Penggunaan dwibahasa atau bahasa campuran ini mengindikasikan bahwa pada masa itu, masyarakat yang hidup di sekitar aliran Sungai Barumun merupakan komunitas multikultural yang terintegrasi.
Isi dari prasasti ini merekam peristiwa penting, yakni pendirian sebuah tempat suci atau wihara bagi raja, serta menyebutkan nama-nama tokoh penting pada masa itu, seperti Pu Sapta dan Pu Naga (penggunaan awalan Pu lazim digunakan sebagai gelar kehormatan kuno di Nusantara).
Keberadaan bahasa Batak Kuno dalam struktur teks resmi kerajaan membuktikan bahwa interaksi antara kebudayaan Melayu (yang dominan di jalur perdagangan sungai dan pesisir) dan kebudayaan Batak (yang berakar di pedalaman) telah terjalin sangat erat jauh sebelum era modern. Prasasti ini adalah monumen otentik tentang toleransi, pertukaran budaya, dan koeksistensi damai antaretnis di masa lalu.
0 Comments:
Leave a Reply