Loading
Menyingkap Harta Karun Peradaban Islam: Catatan Perjalanan Saya di Museum Sejarah Al-Qur'an Medan
Pernahkah Anda membayangkan sebuah peta sejarah yang seolah "menghapus" jejak peradaban luhur di tanah kelahiran kita sendiri? Itulah yang terjadi pada tahun 2007 silam, ketika sebuah peta sebaran naskah kuno nusantara terbit dan secara mengejutkan membiarkan wilayah Sumatera Utara kosong tanpa jejak peninggalan mushaf Al-Qur'an masa lampau. "Kekosongan" visual inilah yang memicu rasa penasaran saya untuk datang dan membuktikan sendiri kebenarannya di Museum Sejarah Al-Qur'an yang berlokasi di Jalan Willem Iskandar, Medan. Sebagai satu-satunya museum spesifik sejarah Al-Qur'an di Sumatera Utara, tempat yang saya kunjungi ini seolah hadir untuk meruntuhkan anggapan keliru tersebut, sekaligus memamerkan mahakarya peradaban Islam Nusantara yang selama ini tersembunyi dari pandangan publik.
Saat menelusuri lorong-lorong museum, saya sempat berbincang dengan Susanti, salah satu petugas di sana. Ia menceritakan bahwa berdirinya museum ini bermula dari kegelisahan dan dedikasi panjang Dr. Phil Ichwan Azhari, Ketua Yayasan sekaligus seorang sejarawan yang merasa terpacu oleh peta keluaran tahun 2007 tersebut. Beliau sangat yakin bahwa Sumatera Utara memiliki sejarah peradaban Islam yang kuat, sehingga mulai bergerak mengumpulkan mushaf-mushaf Al-Qur'an kuno dari berbagai pelosok daerah. Bagi saya, melihat langsung 70 manuskrip kuno yang kini tersimpan rapi di etalase museum—termasuk 26 mushaf Al-Qur'an tulisan tangan—adalah sebuah pembuktian nyata dari kerja keras belasan tahun yang membuahkan hasil luar biasa.
Hal yang paling membuat saya takjub saat mengamati koleksi demi koleksi adalah sentuhan kearifan lokal yang tertuang begitu indah pada setiap lembaran teks sucinya. Seluruh mushaf yang ditemukan di wilayah Sumatera Utara ini tidak hanya menampilkan kaligrafi yang elegan, tetapi juga memuat iluminasi atau hiasan pinggir naskah yang menjadi ikon identitas budaya setempat. Saya bisa melihat dengan jelas keberagaman ragam hias pada manuskrip, mulai dari corak Melayu Pantai Timur, motif Simalungun, ukiran bunga matahari, hingga perpaduan gaya Melayu-Aceh dan Jawa. Menariknya, meskipun terdapat corak luar seperti Aceh dan Jawa, mushaf-mushaf tersebut ditemukan dan dijaga di tanah Sumatera Utara. Ini membuktikan kepada saya betapa dinamisnya interaksi budaya dan rute penyebaran Islam di wilayah kita pada masa lampau.
Namun, pengalaman yang paling menyentuh hati justru saya temukan ketika memasuki area koleksi naskah tertua yang diyakini berasal dari rentang tahun 1070 hingga 1074 Hijriah. Di sana, saya berkesempatan membaca bagian kolofon—yakni catatan kaki yang ditorehkan oleh sang penyalin naskah di halaman paling akhir. Catatan-catatan usang itu seolah berbisik menceritakan perjuangan para ulama dan penulis masa lalu yang menggoreskan pena mereka siang dan malam tanpa kenal lelah. Melalui barisan kalimat tersebut, saya seakan bisa merasakan tetesan keringat dan dedikasi luar biasa mereka demi merampungkan satu jilid utuh kitab suci Al-Qur'an secara manual, demi memastikan pedoman hidup ini sampai ke generasi kita saat ini.
Ternyata, eksplorasi saya di museum ini tidak berhenti pada peninggalan tekstual saja. Selain memajang puluhan mushaf dan lebih dari 20 buku fikih lawas, saya juga diajak melihat pendekatan edukasi yang sangat membumi melalui sudut pameran botani. Di area khusus ini, saya dapat melihat langsung berbagai tanaman yang disebutkan secara spesifik di dalam ayat suci Al-Qur'an, seperti bawang putih, bawang merah, hingga labu. Setelah menghabiskan waktu berkeliling dan menyerap begitu banyak pengetahuan baru, saya semakin menyadari bahwa Sumatera Utara menyimpan sejarah peradaban Islam yang sangat memukau. Melalui tulisan di website ini, saya sangat merekomendasikan Anda semua untuk meluangkan waktu, datang, dan menyelami sendiri kekayaan literasi masa lampau kita yang luar biasa ini.
0 Comments:
Leave a Reply